Senin, 05 Maret 2012

Pada Sebuah Benih

Pada jalan setapak yang memperlihatkan paradoks
Pada pohon-pohon,entah apa namanya yang hanya diam
Pada burung kutilang yang dari tadi tertawa dan mungkin menertawakanku
Pada ilalang yang hanya terus berbisik pada sesamanya dan akupun tak mengerti
Pada batu kapur yang pecah dan debu kecilnya mulai terbang, akupun tak tahu kemana
Dan sekali lagi aku hanya membisu meskipun ini berkali-kali aku lihat dalam tahun-tahun terakhir ini

Sempat mataku menerawang sambil duduk pada tunggul batu kapur sambil tersengal-sengal,
sambil mencoba menghitung tetes-tetes peluh yang ikut menguap pula,
dan sambil meluruskan kaki yang dari tadi tidak mau kompromi.

Mata dan pikiranku yang menerawang terhenti seketika pada dua kotiledon yang mengapit pucuk daun muda yang masih kusut.
Kulihat benih itu masih rapuh, masih begitu muda
Coba kuperhatikan benih itu dan kembali pikiranku menerawang tentang benih itu.
Kembali mimpiku menggeliat dari balik sadarku tentang sebuah ekspektasi besar.

Entah kenapa pula pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benak ini..
Akan jadi pohon apa benih ini...?
Mangga.? Jati.? Pisang.? Beringin.?
Atau hanya benih dari ilalang yang dari tadi hanya berbisik dengan sesamanya dan dengan bahasa yang ku tak mengerti...

Tapi mimpiku tidak menginginkannya,
Mimpiku ingin lebih dari itu, begitu besarnya realitanya pun aku sangsikan.
Kuharap benih itu punya akar yang besar dan menjalar seluas-luasnya sebesar akar beringin, agar ia punya ilmu dan pengetahuan yang luas.
Kuharap batang rapuh itu jadi batang keras sekeras batang ulin, agar ia berpendirian kuat.
Kuharap pula pucuk hijau muda itu jadi daun lebar selebar daun keladi, agar ia mampu memberikan perlindungan.

Tapi sekali lagi tanyaku muncul.
Akankah itu akan maujud...?
Akankah itu akan jadi nyata atau akan tetap jadi mimpiku...?
Ataukah kupunya kesempatan tuk melihatnya tumbuh...?
Entahlah...
Sampai diri ini tersadar jawabannya belum juga kutemukan...
Read More... Pada Sebuah Benih

Jumat, 13 Januari 2012

Jarak Sosial

Jarak Sosial, istilah ini mungkin kurang tepat dalam penggunaannya. Tapi yang pasti, hal ini tidak sama dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial yang selama ini kita pahami. Saya sendiri belum menemukan istilah yang tepat untuk menggambarkannya. Tetapi baiklah kita gunakan saja istilah Jarak Sosial untuk lebih mudah memahaminya. Jika kita memahami stratifikasi sosial atau pelapisan social sebagai pembagian anggota masyarakat kedalam kelompok-kelompok tertentu atau golongan secara vertikal berdasarkan kekayaan, kekuasaan/wewenang, kehormatan, dan ilmu pengetahuan, maka Jarak Sosial adalah kondisi seseorang atau masyarakat yang berbeda tingkat peradabannya dengan orang lain atau masyarakat lain meskipun itu berada dalam zaman atau masa yang sama.

Pitirin A. Sorikin mengemukakan bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut starata sosial. P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan berdasarkan gengsi masyarakat.

Sementara disatu sisi, Jarak sosial membedakan kelompok-kelompok masyarakat secara horizontal berdasarkan jarak peradabannya. Jarak peradaban ini muncul karena adanya perbedaan dalam ilmu pengetahuan dan kemajuan yang dimiliki seseorang atau masyarakat terhadap kemajuan dan ilmu pengetahuan orang atau masyarakat lainnya. Interpretasi dari jarak sosial adalah lebih maju atau lebih tertinggal sekian tahun. Misalnya, saat ini pada zaman yang sama, masyarakat perkotaan seperti Jakarta jika dibandingkan dengan masyarakat di pedalaman Papua atau Kalimantan terpisah jarak social yang sangat jauh mugkin jaraknya sekitar 100 tahun jarak social itu pun bagi yang tahu aca tulis, tetapi bagi yang buta huruf lebih parah lagi mereka tertinggal 200 tahun atau bahkan lebih oleh masyarakat perkotaan. Atau jarak sosial antara seseorang yang tahu menggunakan komputer terhadap orang lain yang tidak tahu menggunakan komputer.

Dengan kita memahami adanya jarak sosial dalam masyarakat maka upaya-upaya dalam meminimalisir jarak ini kiranya dapat segera mungkin diwujudkan misalnya dengan pendidikan murah dan berkualitas. Pembangunan sarana pendidikan bagi masyarakat pedalaman dan terpencil, dan pemberian beasisiwa bagi mereka yang tidak mampu khususnya dari pedalaman. Belum lagi peran eksternal khususnya pemerintah sangat dibutuhkan untuk bekerjasama dalam menguruangi jarak sosial yang ada, karena jika hanya membiarkan masyarakat yang tertinggal jauh dibelakang berusaha sendiri, maka mustahil jarak sosial itu bias berkurang atau bahkan lebih jauh lagi dari perkiraan mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan begitu cepat dan menghasilkan jarak sosial yang semakin panjang. 
Read More... Jarak Sosial

Minggu, 08 Januari 2012

Vitamin C Pada Buah

Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang diperlukan oleh tubuh dan berfungsi untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh. Bila dalam tubuh kebutuhan vitamin dan mineral mencukupi, maka segala jenis penyakit dapat dicegah. Vitamin C dapat berbentuk sebagai asam L-askorbat dan asam L-dehidroaskorbat. Hingga kini diketahui hanya lima spesies makhluk hidup yang ternyata membutuhkan vitamin C, yaitu manusia, kera, marmot (Guinea pig), kelelawar (Indian fruit bat), dan burung red-vented bulbus.

Vitamin C dapat terserap sangat cepat dari alat pencernaan kita masuk ke dalam peredaran darah dan dibagikan ke seluruh jaringan tubuh. Kelenjar adrenalin mengandung vitamin C sangat tinggi dan pada umumnya tubuh menahan vitamin C sangat sedikit. Vitamin ini mudah larut dalam air sehingga bila vitamin yang dikonsumsi melebihi yang dibutuhkan (megadose), kelebihan tersebut akan dibuang dalam urine. Karena tidak disimpan dalam tubuh, vitamin C sebaiknya dikonsumsi setiap hari. Dosis yang rata-rata dibutuhkan bagi orang dewasa adalah 60-90 mg/hari. Tapi bisa juga lebih tergantung kondisi tubuh dan daya tahan masing-masing orang yang berbeda-beda. Batas maksimum yang diizinkan untuk mengkonsumsi vitamin C adalah 1000 mg/hari.

Peranan utama vitamin C adalah dalam pembentukan kolagen interseluler. Kolagen merupakan senyawa protein yang banyak terdapat dalam tulang rawan, kulit bagian dalam tulang, dentin, dan vasculair endothelium. Kolagen ini berperan dalam proses penyembuhan luka serta daya tahan tubuh melawan infeksi dan stress. Mengkonsumsi vitamin C yang juga berfunsi sebagai antioksidan terbukti dapat menangkal virus-virus seperti virus flu, sehingga bila kita cukup memenuhi kebutuhan ini, maka kita akan lebih jarang mengalami flu.

Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan gusi berdarah, sariawan, nyeri otot atau gangguan syaraf. Kekurangan lebih lanjut mengakibatkan anemia, sering mengalami infeksi, kulit kasar, deformasi tulang, dan yang cukup parah adalah gigi menjadi goyah dan dapat lepas. Sementara kelebihan vitamin C dapat menyebabkan diare. Bila kelebihan vitamin C akibat penggunaan suplemen dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan batu ginjal, sedangkan bila kelebihan vitamin C yang berasal dari buah-buahan umumnya tidak menimbulkan efek samping.

Makanan yang mengandung vitamin C umumnya adalah buah-buahan dan sayuran, terutama buah dan sayuran segar. Buah yang mengandung vitamin C tidak selalu berwarna kuning, misalnya pada jambu biji yang merupakan buah dengan kandungan vitamin C paling tinggi yang dapat kita konsumsi. Beberapa buah yang tergolong tinggi kandung vitamin C-nya, yaitu berries, nenas, dan jeruk. Sementara buah yang tergolong tidak asam seperti pisang, apel, pear, dan peach rendah kandungan vitamin C-nya, apalagi bila produk tersebut dikalengkan.

Untuk mengetahui kandungan vitamin C pada buah, berikut adalah tabel kandungan pada buah-buah yang umum kita temui dalam 100 gram.

Buah
Kandungan Vitamin C
(gr/100 gr)
Jambu Biji
183
Kelengkeng
84
Pepaya
62
Jeruk
53
Melon
42
Anggur
34
Jeruk Mandarin
31
Buah Sukun
29
Mangga
28
Nanas
15
Pisang
9
Alpukat
8
Read More... Vitamin C Pada Buah

Jumat, 09 Desember 2011

Jejak Budaya Korupsi

Sebagai rakyat Indonesia kita boleh berbangga dengan budayanya. Beribu suku bangsa dengan masing- masing adat istiadatnya memberikan kebanggan tersendiri bagi kita rakyat Indonesia apa lagi dengan kekayaan dan sumber daya alam yang melimpah hingga disebut sebagai zamrud khatulistiwa. Bahkan ada lagu yang menganalogikan kekayaan Indonesia dengan lautnya bagaikan kolam susu dan tongkat kayu pun bisa tumbuh menjadi tanaman ditanahnya yang subur. Borobudur, prambanan, dan candi-candi lainnya serta keraton-keraton yang tersebar diseluruh nusantara menjadi bagian dari warisan besarnya peradaban dan budaya Indonesia. Dan sampai saat ini pun mulai dari masyarakat biasa sampai pemerintah senantiasa mempromosikan kebanggan ini.

Akan tetapi, dibalik besarnya warisan sejarah peradaban bangsa ini tidak hanya menimbulkan kekayaan khasanah budaya tetapi juga sebuah budaya yang sampai saat ini masih mengakar bahkan semakin dilestarikan oleh kalangan tertentu. Sebuah warisan dari kuatnya feodalisme zaman kerajaan-kerajaan,juga bagian warisan dari para bangsawan dan kaum priyai masa pendudukan belanda. Dan kini diwariskan oleh petinggi-petinggi Negara dan elit politik yang silih berganti dari satu orde ke orde yang lain dan dari satu periode ke periode yang lain. Dan warisan itu adalah korupsi.

Sebelum kita melangkah lebih jauh ada baiknya kita memahami apa korupsi itu karena berbagai tindakan untuk membasmi tindak korupsi terkendala akibat lemahnya pemahaman masyarakat tentang korupsi dan aturan yang terkait dengannya. Korupsi (bahasa latin: corruption dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Menurut Lembaga Transparansi Internasional, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya yang dekat dengannya, dengan menyalah gunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Menurut perspektif hukum yang ada di Indonesia, defenisi korupsi secara gamblang telah dijelaskan dalam 13 buah Pasal dalam UU No.31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 tahun 2001. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi. Pasal-pasal tersebut menerangkan secara terperinci mengenai perbuatan yang bisa dikenakan pidana penjara karena korupsi. Ketigapuluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi tersebut pada dapat dikelompokkan sebagai berikut: kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi.

Terkadang banyak yang menganggap bahwa korupsi itu mulai berlangsung dizaman orde baru padahal jika kita mencoba melakukan tinjauan historis ternyata berbagai bentuk tindakan yang terkait dengan bentuk-bentuk korupsi telah sering dilakukan sejak kerajaan di Indonesia. Kerasnya feodalisme menyebabkan seorang bupati atau penguasa pada wilayah tertentu harus sering menyerahkan upeti kepada raja yang memerintah bahkan terlebih lagi agar bupati itu ingin tetap menjadi bupati. Pemberian upeti atau hadiah mungkin pada zaman itu dianggap sebagai hal yang wajar dalam sistem pemerintahan yang feodal. Tapi justru hal inilah yang membentuk karakter dari para pemimpin pada zaman itu dan masih mengakar sampai sekarang.

VOC sebagai satu-satunya perusahaan dagang multinasional dan terbesar dizamannya dengan wilayah kerja yang begitu luas mulai dari Amerika Selatan, Afrika bagian selatan, sebagian wilayah Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara khususnya Indonesia terpaksa bangkrut karena korupsi yang begitu besar disetiap hirarki struktural didalamnya. Dan dengan bubarnya VOC pemerintahan Hindia Belanda langsung diambil alih oleh Kerajaan Belanda.

Terkhusus wilayah Indonesia dengan banyak pulau dan kerajaan-kerajaan kecil didalamnya, pemerintah Hindia Belanda menerapkan Teori Asosiasi yang dipaparkan oleh Doktor Snouck Hurgronje dalam menjalankan pemerintahan di wilayah Indonesia. Doktor Snouck Hurgronje seorang sarjana berkebangsaan Belanda yang melakukan penelitian antropososiologi pada penduduk jawa. Dia menemukan bahwa sejak pendudukan Belanda di Jawa, penduduk jawa masih memelihara budaya dari zaman kerajaan-kerajaan jawa kuno khususnya sistem feodalisme pemerintahan. Penduduk jawa sangat patuh terhadap pemimpinnya dalam hal ini bangsawan jawa dibandingkan bangsa Belanda. Oleh karena itu dengan Teori Asosiasi Doktor Snouck Hurgronje, pemerintah Hindia Belanda mengangkat para bangsawan pribumi, bupati, atau adipati dan kaum priyai untuk menjadi regen untuk memerintah diwilayah kekuasaannya masing-masing.

Para regen ini bertugas menjalankan pemerintahan disuatu wilayah kabupaten seperti, menarik pajak dan penyaluran hasil-hasil perkebunan. Penghasilan seorang regen dirinci menjadi empat bagian. Pertama, gaji tetap bulanannya. Kedua, jumlah khusus sebagai kompensasi atas hak pemindahan ke Pemerintah Belanda. Ketiga, bonus dari bagian kuantitas hasil serahan produk-produk kabupatennya seperti kopi, gula, nila, kayu manis, dll. Dan terakhir, pemakaian ternaga serta kekayaan para bawahannya secara sewenang-wenang.

Para regen untuk mempertahankan kebangsawanannya serta menimbulkan kesan bangsawan pada penduduknya harus senantiasa hidup mewah bahkan pengeluarannya bisa melebihi dari pendapatannya. Oleh karena itu pemerintah Hindia Belanda sering memberikan hadiah bagi para regen yang menyetor banyak pajak dan hasil perkebunan, belum lagi bonus tambahan bagi regen yang mengirimkan penduduknya untuk kerja paksa tanpa gaji. Sebenarnya keturunan regen tidak dengan sendirinya menjadi regen, tetapi kembali untuk menimbulkan kesan bangsawan dihadapan penduduknya seorang regen harus membayar mahal dan menyetor upeti kepada Pemerintah Hindia Belanda agar kelak digantikan oleh anaknya. Jelas pada masa itu rakyat biasa tidak sadar bahwa pemimpinya pada dasarnya pemimpin bayaran. Dan tidak diragukan lagi pemberantasan penyalah gunaan kekuasaan ini pasti sangat sulit bahkan sampai di zaman demokrasi sekarang ini.

Era Orde Lama bukan berarti era dimana korupsi tidak mewabah, bahkan di zaman Orde Lama ini terjadi tiga kali pembentukan lembaga pemberantasan korupsi yaitu; Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran), Operasi Budhi, dan Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi (Kontrar). Dan Orde Baru merupakan zaman di korupi semakin dilestarikan dan banyak yang menganggap bahwa korupsi adalah bagian dari budaya Indonesia.

Lemahnya payung hukum dan lembaga pengawas yang cenderung tebang pilih menyebabkan pemberantasan korupsi semakin terhambat. Lihat saja misalnya kasus penyalah gunaan BLBI yang sampai sekarang belum tuntas dan yang paling parah adalah penutupan kasus korupsi mantan Presiden Suharto berserta keluarga tentang aliran dana ketujuh yayasannya.

Lembaga Transparansi Internasional dalam laporannya tentang Indeks Persepsi Korupsi menempatkan Indonesia pada peringkat 145 dari 180 negara. Dan ini membuktikan bahwa saat ini kita membutuhkan sistem dan hukum yang kuat dalam memberantas korupsi. Mengapa kita tidak mencoba mengadopsi aturan di China bahwa pejabat Negara dari partai komunis jika terbukti korupsi akan dijatuhi hukuman mati dan jika dari partai lain akan dijatuhi hukuman mati.

Titik ujung dari mengakarnya korupsi dikalangan birokrasi pemerintahan adalah terbentuk yang dinamakan Kleptokrasi, yang dalam arti harfiahnya adalah pemerintahan oleh para pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. Dan sampai kapan kita berbangga dengan budaya ini.
Read More... Jejak Budaya Korupsi

Minggu, 13 November 2011

Perikarditis Akut

Definisi
Perikarditis akut adalah peradangan pada perikardium (kantung selaput jantung), yang dimulai secara tiba-tiba dan sering menyebabkan nyeri. Peradangan menyebabkan cairan dan produk darah (fibrin, sel darah merah dan sel darah putih) memenuhi rongga perikardium.Trias klasik perikarditis akut adalah nyeri dada, pericardial friction rub dan abnormalitas EKG yang khas.
  
Etiologi
Penyebab perikarditis akut sangat banyak, yaitu penyakit idiopatik (benigna), infeksi non-spesifik virus, tuberkulosis jamur, bakterial, penyakit kolagen seperti arthritis reumatoid, sistemic lupus eritematosus (SLE), neoplasma seperti mesotelioma primer, tumor metastasis, trauma, radiasi, uremia, infark miokard akut, Dressler’s sindrom (pasca infark miokard), pascaperikardiotomi, dan diseksi aorta.



Walaupun begitu banyak penyebab perikarditis akut, namun penyebab paling sering sesuai dengan urutan adalah : infeksi virus, infeksi bakteri, uremia, trauma, sindrom pasca infark miokard, sindrom pascaperikardiotomi, neoplasma, dan idiopatik.

Urutan etiologi pada 96 pasien perikarditis akut menurut Friedberg sebagai berikut : demam reumatik 40,6%, infeksibakterial 19,8%, tuberkulosis 7,3%, perikarditis non-spesifik jinak 10,4% uremia 11,5%, dan penyakit kolagen 2,1%.

Gejala Klinis
Klasifikasi nyeri perikarditis berguna baik secara klinis maupun etiologik, karena gangguan ini adalah proses patologik yang paling sering mengenai perikardium. Nyeri, bising gesek (friction rub) perikard, perubahan elektrokardiografik, dan efusi perikard dengan tamponade jantung dan nadi parodiksal merupakan manifestasi utama dari beberapa bentuk perikarditis akut dan dipertimbangkan sebelum diskusi mengenai bentuk gangguan yang paling sering.
 
Nyeri dada adalah penting tapi bukan gejala tetap pada berbagai bentuk perikarditis akut. Biasanya ada pada jenis infeksi akut dan pada beberapa bentuk yang diduga berhubungan dengan hipersensitivitas dan atau autoimunitas. Nyeri seringkali tidak ada pada tuberkulosis yang timbulnya perlahan, pascaradiasi, neoplastik, atau perikarditis uremik. Nyeri perikarditis seringkali berat. Nyeri bersifat khas yaitu retrosternal dan perikordial kiri, menjalar ke belakang dan tepi trapezius. Seringkali nyeri bersifat pleuritik sebagai akibat radang pleural, misalnya tajam bertambah pada waktu inspirasi, batuk, dan perubahan posisi tubuh, tetapi kadang-kadang merupakan nyeri konstriktif yang stabil dan menjalar pada lengan atau pada kedua lengan dan menyerupai iskemia miokard; oleh karena itu kadang keliru dengan infark miokard. Akan tetapi, nyeri perikard bersifat khas yaitu hilang pada waktu bangun dan bersandar ke depan. Perbedaan infark miokard akut dengan perikarditis akut, kadar transaminase serum dan kreatin kinase meningkat, kemudian karena terkenya epikardium secara bersamaan. Akan tetapi, kenaikan enzim-enzim ini, jika terjadi tidakberlebihan menunjukkan elevasi segmen ST elektrokardiogrfik yang luas pada perikarditis.

Patogenesis
Salah satu reaksi radang pada perikarditis akut adalah penumpukan cairan (eksudasi) di dalam rongga perikard yang disebut sebagai efusi perikard. Efusi yang banyak akan menghambat pengisian ventrikel sehingga curah jantung menurun. Kompensasinya berupa takikardia hingga penurunan tekanan darah serta gangguan perfusi organ lain yang disebut sebagai tamponade jantung. Penyebab tersering adalah noeplasma, idiopatik dan uremia. Bila reaksi radang terus-menerus terjadi maka perikard akan mengalami fibrosis, terbentuk jaringan parut luas, penebalan, kalsifikasi dan terisi eksudat yang akan menghambat proses diastolik.

Bising gesek (friction rub perikard merupakan tanda fisis yang paling penting; hal ini dapat terjadi lebih dari tiga komponen per siklus jantung dan nada tinggi, kasar, dan menggangu. Kadang-kadang dapat ditimbulkan hanya tekanan keras pada diafragma stetoskop yang diletakkan pada dinding dada pada batas sternum bagian bawah kiri. Bising gesek ini paling sering terdengar selama ekspirasi dengan pasien posisi duduk, tetapi bising gesek pleural yang bebas munkin terdengar selama inspirasi dengan pasien bersandar ke depan atau ke dalam posisi lateral dekubitus kiri. Bising gesek biasanya terdengar tidak konstan dan sementara, dan bunyi bising dan keras menghilang dalam waktu beberapa jam, mungkin muncul kembali pada hari berikutnya.

Tamponade jantung merupakan akumulasi cairan dalam perikardium dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan obstruksi yang serius terhadap aliran pada aliran masuk darah ke dalam ventrikel mengakibatkan tamponade jantung, komplikasi yang berbahaya yang mungkin fatal jika tidak diobati segera. Tige penyebab tamponade yang paling seringadalah penyakit neoplastik, perikarditis idiopatik, dan uremia, tetapi juga berasal dari perdarahan ke ruang perikard setelah operasi jantung, trauma (termasuk perforasi jantung selama tindakan diagnostik), tuberkulosis, dan hemoperikardium; yang terakhir dapat terjadi jika pasien dengan salah satu bentuk perikarditis akut yang diobati dengan diobati dengan anti koagulan. Tiga gambaran utama dari tamponade adalah elevasi tekanan dalam jantung, pembatasan pengisisan ventrikel pada diastole dan pnurunan curah jantung. Jumlah cairan yang diperlukan untuk menimbulkan keadaan kritis ini mungkin sebanayak 200mL jika cairan timbul cepat atau lebih 2000mL jika efusi timbulna perlahan ketika perikardium mempunyai kesempatan meregang dan beradapatasi terhadap volume yang meningkat. Volume cairan yang diperlukan untuk menimbulkan tamponade juga berbanding langsung dengan ketebalan miokardium ventrikel dan berbanding terbalik dengan ketebalan perikardium parietal.

Denyut paradoksis merupakan petunjuk penting adanya tamponade jantung yang terdiri dari penurunan tekanan arteri sistolik pada inspirasi lebih besar dari normal (10 mmHg). Jika berat, mungkin dapat dideteksi dengan palpasi nadi arteri yang lemah atau menghilang selama inspirasi, tetapi biasanya diperlukan pengukuran tekanan sistolik sfigmomanometer selam respirasi lambat.

Karena kedua ventrikel berperan dalam penutupan yang erat untuk menahan tekanan, misalnya kantong perikard, pada tamponade jantung pembesaran ventrikle kanan pada waktu inspirasi menekan dan mengurangi volume ventrikel kiri dengan jumlah besar; penonjolan septum intreventrikel ke arah kiri selanjutnya mengurangi kavitas ventrikel bersamaan dengan pembesaran ventrikel kanan selama inspirasi.

Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaaan EKG ditemukan elevasi sgmen ST, depresi segmen PR, dan sinus takikardi. Setelah beberapa waktu dapat ditemukan inversi gelombang T. sebagai komplikasi ditemukan aritmia supraventrikular, termasuk fibrilasi atrium. Foto toraks tampak normal bila efusi perikard hanya sedikit, ttapi bila banyak dapat terlihat bayangan jantung membesar seperti botol air.

Adanya inflamasi dapat diketahui melalui peningktan LED dan leukositosis. Pemeriksaan lain dilakukan atas dasar indikasi bila terdapat kecurigaan mengenai etiologinya misalnya tes tuberkulin.

Komplikasi
Efusi perikard biasanya terdengar dengan nyeri dan/atau perubahan elektrokardiografik perikarditis yang khas seperti dijelaskan diatas dan pembesaran bayangan jantung, efusi perikard terutama penting secara klinis jika timbul dalam waktu relatif singkat, karena ini dapat menimbulkan tamponade jantung. Perbedaan dari pembesaran jantung mungkin ini sulit, tetapi bunyi jantung cenderung melemah; bising gesek menghilang atau terdengar dengan jelas, dan impuls apek dapat menghilang, tetapi kadang-kadang dapat dipalpasi meskipun medial dari batas kiri mengakibatkan resonansi jantung berkurang, dasar paru-paru kiri mungkin tertekan oleh cairan perikard, menimbulkan tanda ewart, bantalan dengan resonansi kurang di sudut scapula kiri. Roentgenogram toraks menunjukkan konfigurasi “botol air (waterbottle)” bayangan jantung, tetapi juga mungkin normal atau hampir normal. Garis lemak perikardial yang jernih mungkin ditemukan pada bayangan kardioperikard. Pemeriksaaan fluoroskopik menunjukkan pulsasi ventrikel berkurang.

Penatalaksanaan 
Pasien dengan perikarditis akut sebaiknya istirahat di tempat tidur sampai nyeri dan demam menghilang. Antikoagulan sebaiknya dihindari. Pasien sering diobservasi untuk memeriksa kemungkinan timbulnya efusi; jika efusi sedang atau banyak tetap terjadi, pasien sebaiknya di rawat di rumah sakit dan tanda tamponade harus diawasi dengan teliti. Adanya defusi, tekanan arteri danvena dan denyut jantung dipantau secara kontinu atau diikuti dengan teliti dan dilakukan rangkaian ekorkadium. Jika tampak manifestasi tamponade, harus dilakukan perikardiosentesis segera, karena tindakan untuk menolong jiwa adaalh menghilangkan tekanna intraperikard. Kateter kecil disisipkan melalui jarum yang dimasukkan ke dalam kavitas perikard yang dibiarkan di tempatnya untuk memungkinkan terjadinya drainase dari ruang perikard jika cairan berkumpul kembali. Jika perikardiosintesis diagnostik pada efusi yang banyak dilakukan, usaha sebaiknya dilakuikan untuk mengangkat cairan sebanyak mungkin.

Terapi bergantung dari penyebabnya. Misalnya diberikan salisilat atau obat anti inflamasi non steroid lain bila penyebabnya virus atau idiopatik. Bila gejala tidak membaik, dapat diberikan kortikosteroid. Pada sebagian besar kasus sembuh sendiri dalam beberapa minggu. Sebagian kambuh kembali dan hanya sedikit yang menjadi kronik, serta jarang menjadi perikarditis konstriktif bila berasal daro virus atau idiopatik.

Semua penderita perikarditis akut harus dirawat untuk menilai timbulnaya tamponade dan membedakannya dengan infark jantung akut. Ekokardiografi diperlukan untuk mengetahui banyaknya efusi perikard. Punksi perikard dilakukan sebagai tindakan terapi.

Jika ditemukan tamponade jantung, maka hal ini menandakan keadaan darurat dan harus segera diatasi dengan punksi perikard. Semua penderita karditis akut harus dirawat untuk menilai/observasi timbulnya tomponade (1 dalam 10 perikarditis akut) dab membedakannya dengan infark jantung akut.

OAINS (obat anti inflamasi nonsteroid) dipakai sebagai dasar pengobatan medikamentosa (mengurangi rasa sakit dan anti-inflamasi). Kortikosteroid (oral prednisolon 60mg/hari) diperlukan bila sakitnya tidak teratasi dengan OAINS. Perikarditis rekuren s (non-bakterial/virus yang dibuktikan dengan PCR) dapat diobati dengan kolkisin 1mg-2mg/hari.
Read More... Perikarditis Akut

Jumat, 07 Oktober 2011

Evolusi; Mitos Peradaban Kuno

Agama paganisme berkembang di Mesopotamia sekitar lima ribu tahun yang lalu, di dataran subur di Timur Tengah, di Lembah Sungai Eufrat dan Tigris, peradaban bangsa Sumeria. Sebagai agama yang muncul pada peradaban manusia yang belum maju, agama ini mengajarkan sejumlah mitos dan takhayyul menyangkut asal-usul kehidupan dan alam semesta terkhususnya asal usul manusia itu sendiri. Salah satunya adalah kepercayaan pada “evolusi”. Menurut legenda Sumeria, Enuma-Elish, kehidupan pertama muncul secara kebetulan di air dan kemudian secara bertahap dalam waktu yang lama berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain, dari makhluk air ke makhluk darat.

Setelah keruntuhan peradaban di mesopotami, bertahun-tahun kemudian sebuah peradaban baru muncul, peradaban yunani kuno, dan mitos evolusi pun semakin tumbuh subur sebagai warisan peradaban sebelumnya. Perkembangan pemikiran filsafat pada masa ini juga masih berputar pada pemikiran tentang asal-usul kehidupan. Para filsuf Yunani, yang menyebut diri mereka sebagai “materialis”, hanya mengakui keberadaan materi dan menganggap materi sebagai sumber kehidupan. Karenanya, mereka menggunakan mitos evolusi untuk menjelaskan proses lahirnya kehidupan di bumi dan munculnya keberagaman makhluk hidup. Demikianlah, Yunani Kuno menjadi jembatan penghubung bagi filsafat materialis dan mitos evolusi. Kebangkitan Bangsa Romawi juga mewarisi pemikiran ini.

Pada abad ke delapan belas, dua konsep dari kebudayaan penyembah berhala ini diperkenalkan ke dunia modern. Kaum intelektual Eropa yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani kuno mempercayai paham ‘materialisme’ sebagai landasan filsafatnya dengan keyakinan yang sama, yakni mereka sangat anti terhadap agama monoteisme. Salah satu tokoh materialis terkemuka, Baron d’Holbach, menerbitkan sebuah buku yang berjudul The System of Nature dan kemudian dianggap sebagai “rujukan utama ateisme”.

Di satu sisi, untuk pertama kalinya, seorang ahli biologi Perancis, Jean Baptist Lamarck memberikan penjelasan rinci tentang teori evolusi. Teori Lamarck, yang kemudian terbantahkan, menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi dari satu spesies ke spesies yang lain melalui perubahan sedikit demi sedikit dalam jangka waktu lama. Kemudian Charles Darwin setelah melakukan ekspedisinya ke Kepulauan Galapagos, mengulangi dan menyebarluaskan pandangan Lamarck, meskipun agak berbeda.

Darwin mengemukakan pandangannya di Inggris tahun 1859, melalui penerbitan bukunya The Origin of Species. Buku Darwin pada hakikatnya adalah penjelasan rinci tentang mitos evolusi sebagai penyempurna teori Lamarck, yang awalnya diperkenalkan oleh bangsa Sumeria kuno. Teorinya menyatakan bahwa semua spesies yang berbeda berasal dari satu moyang yang sama, yang terbentuk dalam air secara kebetulan, yang darinya beragam spesies makhluk hidup muncul dalam rentang waktu yang lama.

Pernyataan Darwin ini tidaklah didasarkan atas bukti ilmiah, sehingga tak begitu dipercayai oleh para ilmuwan di zamannya. Para ahli paleontologi khususnya, menyadari bahwa keseluruhan teori tersebut sebagian besarnya adalah khayalan Darwin belaka. Catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak mengalami proses evolusi dari bentuk sederhana ke bentuk lebih sempurna. Bahkan makhluk yang hidup ratusan juta tahun lalu memiliki tubuh yang sama lengkapnya dengan yang masih hidup sekarang. Tak ada jejak “bentuk transisi” yang menurut Darwin pernah ada dan yang dianggap menghubungkan satu spesies dengan yang lain. Di tahun-tahun berikutnya, pernyataan lain dari teori ini terbantahkan satu demi satu. Biokimia mengungkapkan bahwa kehidupan terlalu kompleks untuk dapat muncul secara kebetulan sebagaimana klaim Darwin. Bahkan diketahui bahwa pembentukan secara acak molekul paling sederhana tidaklah mungkin, apalagi sebuah sel hidup. Di sisi lain, anatomi menunjukkan bahwa makhluk hidup memiliki disain khas dan masing-masing diciptakan secara terpisah.

Singkatnya, teori Darwin tidak memiliki landasan ilmiah. Tapi, teori ini dengan cepat memperoleh dukungan politis dikarenakan “pembenaran ilmiah” yang diberikannya pada kekuatan yang berpengaruh di abad kesembilan belas.
Read More... Evolusi; Mitos Peradaban Kuno

Sabtu, 20 Agustus 2011

Membudayakan Ramadhan

Bulan suci ramadhan atau lebih sering disebut bulan ramadhan saja telah menjadi bagian yang tak terpisah bagi umat muslim karena selain merupakan bagian dari salah satu ibadah syariat dalam Islam juga telah menjadi budaya tersendiri utamanya bagi umat muslim Indonesia.  Keistimewaanya bulan ramadhan tentunya dari berbagai macam ibadah dan rutinitas keagamaan mulai dari puasa,sholat malam,dan limpahan pahala yang berlipat dibandingkan dengan bulan-bulan lainya. Selama ramadhan seolah-olah umat muslim berlomba dalam setiap rutinitas ibadah bahkan banyak yang memberikan waktu yang lebih dibandingkan bulan selain ramdhan,beberapa daerah malah memberikan liburan sekolah selama ramadhan dengan dalih untuk kekhuyukan beribadah. Atmosfer kehidupan masyarakat seolah berubah dan lebih hangat selama ramadhan. Bisa dibilanng bulan ramadhan seolah-olah menjadi sarana refresh bagi diri manusia,menjadikan dan mengarahkan manusia untuk kembali kefitrahnya.

Dalam kacamata perilaku dan budaya masyarakat,bulan ramadhan telah menjelma menjadi budaya tersendiri tidak hanya sekedar tuntunan syariat. Luapan kegembiraan menyambut dan menjalani rutinitas selama ramadhan didukung dengan perubahan-perubahan dalam setiap segi kehidupan mulai dari kantor,sekolah, bahkan media baik cetak maupun elektronik memberikan penyajian dan tayangan khusus selama ramadhan. Perubahan paling terasa bisa dilihat dari perilaku, orang-orang jauh lebih mudah tersenyum, lebih bersabar,dan yang pasti menunjukkan sisi ideal dari seorang manusia. Lingkungan sosial juga mengalami perubahan yang sangat berarti, interaksi sosial jauh lebih masif ditunjang dengan suasana yang hangat. Bagi mereka yang jarang berkumpul dengan keluarga dengan alasan kesibukan,bulan ramdhan seolah memberikan waktu untuk lebih sering berkumpul dengan keluarga minimal untuk sahur dan berbuka. Peningkatan interaksi dapat dilihat juga melalui ramainya orang-orang untuk berjamaah dimasjid. Semangat untuk berbagi juga terlihat begitu besar selama ramadhan,orang-orang berlomba-lomba untuk mensedekahkan harta miliknya.

Sebuah pertanyaan yang menarik yang saya pikir perlu kita jawab bersama,mungkinkah menjadikan setiap bulan adalah bulan ramadhan? Disini yang saya maksud adalah bukan dalam arti syariatnya tetapi nilai dan spiritnya.Nilai dimana setiap manusia harus senantiasa menjalankan fungsi-fungsi kemanusiaanya, nilai dimana kita jauh lebih sering meningkatkan interaksi dengan masyarakat, nilai dimana kita jauh lebih sering berbagi dan berbuat untuk orang lain. Bukan hal yang mustahil andai kita bisa melihat sisi lain dari ramadhan tidak hanya sekedar sebuah tuntunan syariat tetapi media untuk mengingatkan kembali akan peran manusia itu sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana bangsa ini anda setiap saat spirit ramadhan kita jadikan bagian dalam menjalani rutinitas keseharian kita. Wassalam...
Read More... Membudayakan Ramadhan

Rabu, 13 Juli 2011

Karsinoma Nasofaring

Defenisi
Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh didaerah nasofaring dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring.(5) Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang sering ditemukan pada pria berusia lebih dari 40 tahun. Banyak terdapat pada bangsa Asia terutama orang Tionghoa. Biasanya mulai dari daerah fosa Rossenmuler. Tumor ini tumbuh dari epitel yang meliputi jaringan limfoid. Tumor primer dapat kecil, akan tetapi telah menimbulkan metastasis pada kelenjar limfe regional, biasanya pada leher.(4)

Keganasan nasofaring banyak terjadi di asia. Sering terjadi kekeliruan dalam mendiagnosis karena gejalanya yang samar-samar dan sulitnya pemeriksaan nasofaring.(7) Diagnosis dini menentukan prognosis pasien, namun cukup sulit dilakukan, kerena nasofaring tersembunyi di belakang tabir langit-langit dan terletak di bawah dasar tengkorak serta berhubungan dengan bayak daerah penting di dalam tengkorak dan ke lateral maupun ke posterior leher. Oleh karena letak nasofaring tidak mudah diperiksa oleh mereka yang bukan ahli, seringkali tumor ditemukan terlambat dan sering menyebabkan metastasis ke leher lebih sering ditemukan sebagai gejala pertama.(6)

Ada beberapa jenis keganasan yang terdapat di nasofaring yaitu karsinoma sel skuamous, limfoma, keganasan kelenjar ludah, dan sarcoma. Karsinoma nasofaring termasuk penting dalam skala dunia. Di Cina selatan karsinoma nasofaring menmepati kedudukan tertinggi yaitu dengan 2.500 kasus baru pertahun untuk propinsi Guan-dong atau prevalensi 39.84/100.000 penduduk. Ras Mongoloid merupakan faktor dominant timbulnya krsinoma nasofaring, sehingga sering terjadi pada penduduk Cina bagian selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Ditemukan cukup banyak pula di Yunani, Afrika bagian utara seperti Aljazair dan Tunisia, pada orang Eskimo di Alaska, diduga penyebabnya adalah karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam musim dngin yang menggunakan bahan pengawet nitrosamine. Di Indonesia frekuensi pasien ini hampir meratadi setiap daerah. Di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, RS. Hasan Sadikin Bandung rata-rata 60 kasus, Ujung pandang 25 kasus, Palembang 25 kasus, Dnpasar 15 kasus, Padang dan Bukit tinggi 11 kasus. Demikian pula angka-angka yang didapatkan di Medan, Semarang, Surabaya dan lain-lain menunjukkan bahwa tumor ganas ini terdapat merata di Indonesia.(6)

Salah satu etiologi karsinoma nasofaring adalah disebabkan virus Epstein-Barr. Karsinoma nasofaring lebih sering terjadi pada laki-laki, umur 40 dan 50 tahun, tetapi kadang juga dijumpai pada anak-anak. 90% adalah karsinoma, sisanya yang terbayak adalah limfoma. Karsinoma nasofaring menyebar secara local melalui perluasan langsung, secara regional melalui nodul-nodul sekitarnya, dan secara jauh melalui aliran darah. Metastase jauh ke paru-paru, tulang, dan hepar paling sering terjadi di nasofaring dibandingkan tempat lain di leher dan kepala.(2)

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring, kemudian diikuti oleh karsinoma hidung dan sinus paranasal (18%), laring (16%), dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam prosentase rendah. Berdasarkan data laboratorium patologi anatomic tumor ganas nasofaring selalu berada dalamkedudukan lima besar dari tumor ganas tubuh manusia bersama tumor ganas serviks uteri, tumor payudara, tumor getah bening dan tumor kulit.(6)

Etiologi
Terjadinya karsinoma nasofarin mungkin multifaktorial, proses karsinogenesisnya mungkin mencakup banyak tahap. Faktor yang mungkin terkait dengan timbulnya kanker nasofaring adalah:
  1. Kerentanan Genetik, walaupun karsinoma nasofaring tidak termasuk tumor genetic, tetapi kerntanan terhadap karsinoma nasofaring pada kelompok masyrakat tertentu relative menonjol dan memiliki agregasi familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA (human leukocyte antigen) dan gen pengode enzim sitokrom p4502E (CYP2E1) kemungkinan adalah gen kerentanan terhadap karsinoma nasofaring, mereka berkaitan dengan sebagian besar karsinoma nasofaring.(8)
  2. Virus Eipstein-Barr, Banyak perhatian ditujukan kepada hubungan langsung antara karsinoma nasofaring dengan ambang titer antibody virus Epstein-Barr (EBV). Serum pasien-pasien orang asia dan afrika dengan karsinoma nasofaring primermaupun sekunder telah dibuktikan mengandung antibody Ig G terhadap antigen kapsid virus (VCA) EB dan seringkali pula terhadap antigen dini (EA); dan antibody Ig A terhadap VCA (VCA-IgA), sering dengan titer yang tinggi. Hubungan ini juga terdapat pada pasien Amerika yang mendapat karsinoma nasofaring aktif. Bentuk-bentuk anti-EBV ini berhubungan dengan karsinoma nasofaring tak berdifrensiasi dan karsinoma nasofaring non-keratinisasi yang aktif (dengan mikroskop cahaya) tetapi biasanya tidak dengan tumor sel skuamosa atau elemen limfoid dalam limfoepitelioma.(1)
  3. Faktor Lingkungan, menurut laporan luar negeri, orang cina generasi pertama (Umumnya penduduk kanton ) yang bermigrasi ke Amerika Serikat, Kanada memiliki angka kematian akibat karsinoma nasofaring 30 kali lebih tinggi dari penduduk kulit putih setempat, sedangkan pada generasi kedua turun menjadi 15 kali, generasi ketiga belum ada angka pasti, tetapi secara keseluruhan cenderung menurun. Dalam pada itu, orang kulit putih yang lahir d Asia Tenggara, angka kejadian nasofaring meningkat. Sebabnya selain pada sebagian orang terjadi perubahan pada hubungan darah, jelas factor lingungan juga berperan penting. Penelitian akhir-akhir ini menemukan zat-zat berikut berkaitan dengan timbulnya karsinoma nasofaring:
    1. Golongan Nitrosamin,diantaranya dimetilnitrosamin dan dietilnitrosamin.
    2. Hodrokarbon aromatic
    3. Unsur Renik, diantaranya nikel sulfat.(8)

Anatomi Nasofaring
NASOFARING disebut juga Epifaring, Rinofaring. merupakan yang terletak dibelakang rongga hidung, diatas Palatum Molle dan di bawah dasar tengkorak. Bentuknya sebagai kotak yang tidak rata dan berdinding enam, dengan ukuran melintang 4 sentimeter, tinggi 4 sentimeter dan ukuran depan belakang 2-3 sentimeter.
Batas-batasnya :
- Dinding depan : Koane
- Dinding belakang : Merupakan dinding melengkung setinggiVertebra Sevikalis I dan II.
- Dinding atas : Merupakan dasar tengkorak.
- Dinding bawah : Permukaan atas palatum molle.
- Dinding samping : di bentuk oleh tulang maksila dan sfenoid.

Dinding samping ini berhubungan dengan ruang telinga tengah melalui tuba Eustachius. Bagian tulang rawan dari tuba Eustachius menonjol diatas ostium tuba yang disebut Torus Tubarius. Tepat di belakang Ostium Tuba. Terdapat cekungan kecil disebut Resesus Faringeus atau lebih di kenal dengan fosa Rosenmuller; yang merupakan banyak penulis merupakan lokalisasi permulaan tumbuhnya tumor ganas nasofaring. Tepi atas dari torus tubarius adalah tempat meletaknya oto levator veli velatini; bila otot ini berkontraksi, maka setium tuba meluasnya tumor, sehingga fungsinya untuk membuka ostium tuba juga terganggu. Dengan radiasi, diharapkan tumor primer dinasofaring dapat kecil atau menghilang. Dengan demikian pendengaran dapat menjadi lebih baik.

Sebaliknya dengan radiasi dosis tinggi dan jangka waktu lama, kemungkinan akan memperburuk pendengaran oleh karena dapat terjadi proses degenerasi dan atropidari koklea yang bersifat menetap, sehingga secara subjektif penderita masih mengeluh pendengaran tetap menurun.

Di nasofaring terdapat banyak saluran limfe yang terutama mengalir ke lateral bermuara kelenjar retrofaring Krause (kelenjar Rouviere). Terdapat hubungan bebas melintasi garis tengah dan hubungan langsung dengan mediastinum melalui ruang retrofaring. Metastasis jauh sering terjadi.

Pembagian daerah nasofaring :
  1. Dinding posterosuperior : daerah setinggi batas palatum durum dan mole sampai dasar tengkorak.
  2. Dinding lateral: termasuk fosa Rosenmuleri
  3. Dinding inferior: terdiri atas permukaan superior palatum mole.
Catatan: Pinggir orifisium koana termasuk pinggir posterior septum hidung dimasukkan sebagai fosa nasal.(1)


Histologi Nasofaring
Permukaan nasofaring berbenjol-benjol, karena dibawah epitel terdapat banyak jaringan limfosid,sehingga berbentuk seperti lipatan atau kripta. Hubungan antara epitel dengan jaringan limfosid inisangat erat, sehigga sering disebut " Limfoepitel ".

Bloom dan Fawcett ( 1965 ) membagi mukosa nasofaring atas empat macam epitel :
1. Epitek selapis torak bersilia " Simple Columnar Cilated Epithelium "
2. Epitel torak berlapis " Stratified Columnar Epithelium ".
3. Epitel torak berlapis bersilia "Stratified Columnar Ciliated Epithelium"
4. Epitel torak berlapis semu bersilia " Pseudo-Stratifed Columnar Ciliated Epithelium ".

Mengenai distribusi epitel ini, masih belum ada kesepakatan diantara para hali.60 % persen dari mukosa nasofaring dilapisi oleh epitel berlapis gepeng " Stratified Squamous Epithelium ", dan 80 % dari dinding posteroir nasofaring dilapisi oleh epitel ini, sedangkan pada dinding lateral dan depan dilapisi oleh epitel transisional, yang meruapkan epitel peralihan antara epitel berlapis gepeng dan torak bersilia.Epitel berlapis gepeng ini umumnya dilapisi Keratin, kecuali pada Kripta yang dalam. Di pandang dari sudut embriologi, tempat pertemuan atau peralihan dua macam epitel adalah tempat yang subur untuk tumbuhnya suatu karsinoma.(9)

Histopatologi
Kesukaran timbul dalam mengidentifikasi karsinoma nasofaring jenis sangat tidak berdiferensiasi dimana sudah tidak ada kekhususan epitelnya. Lebih dari 85% kemungkinan adalah karsinoma, mungkin 15% limfoma maligna dan kuang dari 2% tumor jaringan ikat. Sekali-sekali ditemukan neuroblastoma, silindroma dan tumor campur ganas. Menggunakan mikroskop electron, Ditemukan karsinoma nasofaring tumbuh dari lapisan skuamosa atau lapisan epitel respiratorius pada permukaan kripti nasofaring. Dindinga lateral yang ada fosa Rossenmulleri Merupakan lokasi tersering karsinoma nasofaring dan dinding faring posterior sedikit lebih jarang. Lebih jarang lagi tumor pada atap dan hanya sekali-kali pada dasar. Pada mulanya tumor sedemikian kecil sehingga sukar diketahui, atau tumbuh didaerah yang gejalanya tidak diketahui seperti pada fosa Rosenmulleri. Kemudian geajla-gejala akan muncul sesuai dengan arah penyebaran. Mungkin meluas melalui lubanga pada sisi yang sama dengan tumor atau mengikis tulang secara nekrosis tekanan.

Sesuai dengan klasifikasi karsinoma nasofaring yang diusulkan WHO tahun 1978. ada tiga jenis bentuk histologik :
  1. Karsinoma tidak berdifrensiasi, sel mempunyai inti vesikuler, nucleolus yang menonjol dan dinding sel tidak tegas; tumor tampak lebih berbentuk sinsitium daripada bentuk susunan batubata.
  2. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi, terdapat jembatan interseluler dan keratin, dapat dilihat dengan mikroskop cahaya.
  3. Karsinoma nonkeratinisasi, pada pemeriksaan dengan mikroskop cahaya, terdapat tanda difrensiasi, tetapi tidak ada difrensiasi skuamosa.

    Karsinoma limfoepitelioma didapatkan dalam bentuk kedua atau ketiga. Ditandai olah tampak banyak limfosit non maligna dan secara klinis sesuai karena respon terhadap terapi lebih baik disbanding dengan bentuk lain.

    Tahun 1965 Svaboda melaporkan bahwa dari contoh jaringan yang diambil dari 14 pasien Amerika dan Cina dengan karsinoma nasofaring berdiferensiasi buruk yang diperiksa dengan mikrosko electron, semua menunjukkan adanya fibrilkeratin. Ini menimbulkan keraguan karena Who Dalam symposium internasionalnya mengenai karsinoma nasofaring than 1977 mendasarkan klasifikasinya atas hasil pemeriksaan mikroskop cahaya seperti tercantum diats, diman atidak selalu tampak keratin. Meskipun demikian klasifikasi WHO mengenai tumor nasofaring ini masih tetap dipakai.(1)

    Penentuan Stadium
    Untuk penetuan stadium dipakai sistim TNM menurut UICC (1992)
    T= Tumor primer
    T0- Tidak tampak tumor.
    T1- Tumor terbatas pada satu lokalisasi saja (lateral/posterosuperior/atap dan lain-lain).
    T2 Tumor teradapt pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas di dalam rongga nasofaring
    T3 Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung atau orofaring)
    T4 Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak atau mengenai saraf-saraf otak.
    Tx Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap.

    N Pembesaran kelenjar getah bening regional
    N0 Tidak ada pembesaran
    N1 Terdapat pembesaran tetapi homolateral dan masih dapat digerakkan
    N2 Terdapat pembesaran kontralateral / bilateral dan masih dapat digerakkan
    N3 Terdapat pembesran, baik homolateral, kontralateral maupun bilateral yang sudah melekat pada jaringan sekitar.

    M Metastase jauh
    M0 Tidak ada metastasis jauh
    M1 Terdapat metastasis jauh

    STADIUM
    Stadium I :
    T1 dan N0 dan M0
    Stadium II :
    T2 dan N0 dan M0
    Stadium III :
    T1/T2/T3 dan N1 dan M0
    atau T3 dan N0 dan M0
    Stadium IV :
    T4 dan N0/N1 dan M0
    atau T1/T2/T3/T4 dan N2/N3 dan M0
    atau T1/T2/T3/T4 dan N0/N1/N2/N3 dan M1(10)

    Gejala dan Tanda
    Gejala karsinoma nasofaring dapat dibagi dalam 4 kelompok, yaitu gejala nasofaring sendiri, gejala telinga, gejala mata, fdan syaraf, serta metastasis atau gejala di leher. Gejala nasofaring dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung, untuk itu nasofaring harus diperiksa dengan cermat kalau perlu dengan nasofaringoskop, karena seringa gejala belum ada sedangkan tumor sudah tumbuh atau tumor tidak tampak karena masih terdapat dibawah mukosa (creeping tumor).

    Gangguan pada telinga merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (fosa Rosenmuller). Gangguan dapat berupa tinitus, rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia). Tidak jarang pasien dengan gangguan pendengaran ini baru kemudian disadari bahwa penyebabnya adalah karsinma nasofaring.

    Karena nasofaring berhubungan dekat dengan rongga tengkorak melalui beberapa lobang, maka gangguan beberapa lobang, dari beberapa saraf otak dapat terjadi sebagai gejala lanjut karsinoma ini. Penjalaran melalui foramen laserum akan mengenai saraf otak ke II, IV, VI dan dapat pula ke V, shingga tidak jarang gejala diplopia lah yang membawa pasien lebih dahulu ke dokter mata. Neuralgia trigeminal merupakan gejala yang sering ditemukan oleh ahli saraf jika belum terdapat keluhan lain yang berarti.

    Proses karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika penjalaran melalui foramen jugulare, yaitu suatu tempat yang relatif jauh dari nasofaring. Gangguan ini sering disebut dengan sindrom Jackson. Bila sudah mengenai seluruh syaraf otak disebut sindrom unilateral. Dapat pula disertai dengan destruksi tulang tengkorak dan bila sudah terjadi demikian biasanya prognosisnya buruk.

    Metastase kekelenjar leher dalam bentuk benjolan di leher yang mendorong pasien untuk berobat, karena sebelumnya tidak terdapat keluhan lain.

    Suatu kelainan nasofaring yang disebut lesi hiperplastik nasofaring atau LHN telah diteliti di RRC yaitu tiga bentuk yang mencurigakan pada naofaring seperti pembesaran adenoid pada orang dewasa, pembesaran nodul dan mukosistis berat pada daerah nasofaring. Kelainan ini bila diikuti bertahun-tahun kemudian akan menjadi karsinoma nasofaring.(6)

    Diagnosis
    Persoalan diagnostic sudah dapat dipecahkan dengan pemeriksaan CT-Scan daerah kepala dan leher, sehingga pada tumor primer yang tersembunyi pun tidak akan terlalu sulit ditemukan.(6) Pemeriksaan foto tengkorak potongan anteroposterior, lateral dan waters menunjukan massa jaringan lunak di daerah nasofaring. Foto dasar tengkorak memperlihatkan destruksi atau erosi tulang di daerah fossa serebri media. Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal, dll dilakukan untuk mendeteksi metastasis.(5) Pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk infeksi virus E-B telah menunjukkan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma nasofaring. Tetapi pemeriksaan ini hanya digunakan untuk menentukan prognosis pengobatan.

    Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan biopsy nasofaring. Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari hidung atau dari mulut.

    Biopsi dari hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsy). Cunam biopsi dimasukkan melalui rongga hidung menelusuri konka media ke nasofaring kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy. Biopsi melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukkan melalui hidung dan ujung kateter yang berada didalam mulut ditarik keluar dan diklem bersam-sama ujung kateter yang di hidung. Demikian juga dengan kateter dari hidung disebelahnya, sehingga palatum mole tertarik keatas. Kemudian dengan kaca laring dilihat daerah nasofaring. Biopsi dilakukan dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukkan melalui mulut, massa tumor akan terlihat lebih jelas. Biopsi tumor nasofaring umumnya dilakuan dengan anestsi topical dengan Xylocain 10%. Bila dengan cara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan maka dilakukan pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narcosis.(6)

    Penatalaksanaan
    Radioterapi masih merupakan pengobatan utama dan ditekankan pada penggunaan megavoltage dan pengaturan dengan computer. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher, pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan anti virus. Semua pengobatan tambahan ini masih dalam pengembangan, sedangkan kemoterapi masih tetap terbaik sebagai terpai adjuvant (tambahan). Bebagai macam kombinasi diebangkan, yang trbaik sampai saat ini adalah kombinasi dengan Cis-platinum sebagai inti.

    Pemberian adjuvant kemoterapi Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil saat ini sedang dikembangkan dengan hasil sementara yang cukup memuaskan. Demikian pula telah dilakukan penelitian pemberian kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum, meskipun ada efek samping yang cukup berat, tetapi memberikan harapan kesembuhan yang lebih baik. Kombinasi kemoterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral setiap hari sebelum diberikan radiasi yang bersifat radiosensitizer memperlihatkan hasil yang memberi harapan akan kesembuhan total pasien karsinoma nasofaring.

    Pengobatan pembedahan diseksi leher radikal dilakukan terhadap benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran (residu) atau timbul kembali setelah penyinaran selesai, tetapi dengan syarat tumor induknya sudah hilang yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologi dan serologi. Operasi tumor induk sisa (residu) atau kambuh (residif) diindikasikan, tetapi sering timbul komplikasi yang berat akibat operasi.

    Perawatan paliatif
    Perhatian pertama harus diberikan pada pasien dengan pengobatan radiasi. Mulut rasa kering disebakan oleh keusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu penyinaran. Tidak banyak yang dilakukan selain menasihatkan pasien untuk makan dengan banyak kuah, membawa minuman kemanapun pergi dan mencoba memakan dan mengunyah bahan yang rasa asam sehingga merangsang keluarnya air liur. Gangguan lain adalah mukositis rongga mulut karena jamur, rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran, sakit kepala, kehilangan nafsu makan dan kadang-kadang muntah atau rasa mual.

    Kesulitan yang timbul pada perawatan pasien pasca pengobatan lengkap dimana tumor tetap ada (residu) akan kambuh kembali (residif). Dapat pula timbul metastasis jauh pasca pengobatan seperti ke tulang, paru, hati, otak. Pada kedua keadaan tersebut diatastidak banyak tindakan medis yang dapat diberikan selain pengobatan simtomatis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Paisen akhirnya meninggal dalam keadaan umum yang buruk , perdarahan dari hidung dan nasofaring yang tidak dapat dihentikan dan terganggunya fungsi alat-lata vital akibat metastasis tumor. (6)

    Prognosis
    Secara keseluruhan, angka bertahan hidup 5 tahun adalah 45 %. Prognosis diperburuk oleh beberapa faktor, seperti :
    - Stadium yang lebih lanjut.
    - Usia lebih dari 40 tahun
    - Laki-laki dari pada perempuan
    - Ras Cina dari pada ras kulit putih
    - Adanya pembesaran kelenjar leher
    - Adanya kelumpuhan saraf otak adanya kerusakan tulang tengkorak
    - Adanya metastasis jauh(11)

    Komplikasi
    Gejala metastasis jauh, karena 95% lebih sel kanker nasofaring berdiferensiasi buruk, dengan derajat keganasan tinggi, waktu diagnosis ditegakkan, 4,2% kasus sudah menderita metastasis jauh, Dari kasus wafat setelah radioterapi, angka metastasis jauh 45,5%. Lokasi metastasis paling sering ke tulang, paru hati. Metastasis tulang paling sering ke pelvis, vertebra, costa, dan keempat ekstremitas.(12)

    Daftar Pustaka
    1. Ballenger J. Jacob., 1994. Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, ed.13, jilid 1, Binarupa Aksara, Jakarta. pp; 371-396
    2. www.crab.org
    3. Eugene B. Kern. Et al. 1993. Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok, EGC, Jakarta. pp;371- 373
    4. Kurniawan A. N., 1994. Nasopharynx dan Pharynx dalam Kumpulan kuliah Patologi, FKUI, 1994,Jakarta.pp;151-152
    5. Mansjoer, Arif., et al (eds), 1999. Kapita Selekta Kedokteran ed.III, jilid 1, FKUI, Media Aesculapius, Jakarta. pp; 371-396
    6. Roezin A., dan Syafril A., 1990. Karsinoma Nasofaring dalam Buku ajar ilmu kesehatan telinga, hidung, tenggorok, kepala, leher, ed 5, FKUI, Jakara. pp ; 146-159
    7. www.utmb.edu
    8. Desen Wan, dkk. 2008. Onkologi Klinik ed.II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. pp; 267-268
    9. Soepardi EA, Iskandar N. Dalam : Karsinoma Nasofaring. Buku Ajar THT. Edisi Kelima. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 2000 : 146-150
    10. Desen Wan, dkk. 2008. Onkologi Klinik ed.II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. pp; 274-275
    11. Rasad U, Dalam : Nasopharyngeal Carcinoma. Medical Progress. July Vol 23 no 7 1996 ;16
    12. Desen Wan, dkk. 2008. Onkologi Klinik ed.II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. pp; 272
    Read More... Karsinoma Nasofaring